Devina SPAK Jakarta Sosialisasi Game Semai Majo Tangerang Read Aloud

Dongeng dan Permainan SPAK Bantu Perkenalkan Nilai-nilai Integritas

Menggugah imajinasi melalui rangkaian kata dalam cerita, Devina Febrianti yang akrab disapa Vina kerap menghabiskan waktu senggangnya sebagai pendongeng di salah satu taman baca yang ia kelola. Lulusan S1 jurusan Hubungan Internasional Universitas Islam Nasional (UIN) Jakarta ini percaya bahwa mendongeng bisa menjadi media kreatif dalam menanamkan nilai-nilai antikorupsi, terutama bagi anak-anak. Tak disangka, perjumpaan Vina dengan SPAK Indonesia memperkenalkannya pada media kreatif lainnya yakni games SPAK. Perjumpaan pertama Vina dengan SPAK Indonesia terjadi pada tahun 2016 silam ketika ia bertugas sebagai bagian dari panitia kegiatan International Business Integrity Conference (IBIC) yang diadakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kala itu, Vina sempat mengunjungi salah satu booth dan berjumpa dengan salah seorang Agen SPAK yang mengajaknya memainkan papan permainan SEMAI (Sembilan Nilai Anti Korupsi) yang dikembangkan oleh gerakan SPAK.  Momen itulah yang menandai awal perjalanan Vina sebagai agen SPAK.  Hingga 2021, Vina mulai aktif bergerak bersama agen-agen SPAK Jakarta. Meskipun situasi pandemi membatasi mobilitas publik, hal itu tidak menyurutkan semangat Vina untuk terlibat aktif mensosialisasikan nilai-nilai antikorupsi. Salah satu kampanye yang Vina aktif garap pada masa pandemi adalah kampanye membaca nyaring bersama komunitas baca Tangerang Read Aloud. Tekadnya sudah bulat untuk melakukan sosialisasi nilai-nilai antikorupsi beriringan dengan kampanye yang ia lakukan. Devina kemudian mewujudkan sebuah inisiatif yakni sebelum sosialisasi dan bermain Semai, terlebih dahulu ia bercerita dengan buku yang mengangkat tema 9 nilai integritas, salah satunya menyentuh tema tanggung jawab. Antusiasme Vina dalam mengintegrasikan pengenalan nilai-nilai antikorupsi melalui permainan SPAK dalam pelatihan kepada pengurus taman baca di beberapa lokasi disambut baik. Banyak di antara rekan pengurus yang tidak menyangka bahwa substansi pendidikan nilai antikorupsi yang biasanya dijumpai di pendidikan formal dapat disulap ke dalam bentuk permainan yang menyenangkan.  Seorang pengelola Madrassah yang Vina ajak untuk ikut pelatihan bermain Semai bahkan langsung memperkenalkan permainan tersebut kepada anak-anak didiknya. Beliau bercerita bahwa ada diskusi panjang saat seorang anak bertanya, “Kak, aku suka terbalik membedakan antara disiplin sama tanggung jawab karena dari tadi aku jawab salah,” yang kemudian menimbulkan diskusi kecil tetapi tetap mengasyikkan. Permainan ini memperkenalkan konsep perilaku koruptif dari perilaku sehari-hari sehingga terasa begitu dekat, sehingga anak-anak didik yang sudah pernah bermain Semai kini bisa mengidentifikasi bahwa perilaku mencontek maupun terlambat masuk kelas bertentangan dengan nilai kejujuran dan tanggung jawab. Beliau juga bercerita bahwa bukan anak-anak didiknya saja yang dapat pelajaran baru tetapi pengelolanya juga. “Beruntung sekali saya dipercaya bisa menggunakan board game ini” ucap salah satu pengajar.  Bagi Vina, perjalanan 5 tahun menjadi agen SPAK merupakan hal yang sangat membahagiakan. Banyak kejadian seru saat bisa berdialog dengan banyak orang bahkan ketika ada yang merasakan manfaat setelah bermain menyentuh hati dan memunculkan rasa haru. Secara pribadi, ia merasa beruntung bisa dipertemukan dengan SPAK karena dengan aktif di berbagi komunitas menjadikannya lebih bisa mengontrol diri terlebih saat dihadapkan oleh situasi yang tidak sesuai dengan hati nurani. “Aku juga menjadi lebih percaya diri karena hal baik yang kita lakukan akan berdampak untuk sekitar,” tuturnya. “Semoga semakin banyak anak muda yang terinspirasi dan tergerak untuk giat melakukan aktivitas antikorupsi karena gerakan hanya perlu dimulai dari diri sendiri dan terus berperilaku baik untuk masyarakat,” pesan Vina. Lanjutnya, ia percaya bahwa langkah yang besar selalu dimulai dengan langkah kecil, lakukan dengan hati maka gerakan ini akan terus bisa aktif. “Gerakan perubahan yang tak bisa dilakukan sendirian, lakukan bersama serta sinergi dengan siapa saja dan dampaknya untuk kita semua,” pungkas Vina.
Agen SPAK Gresik SMPN 3 Gresik Pelatihan Nilai Antikorupsi

Pelatihan Nilai-nilai Antikorupsi di SMPN 3 Gresik: Mengawali Perubahan melalui Kesadaran akan Tindakan Koruptif

Siapa sangka niat sederhana mengajak sekelompok kecil rekan-rekan tenaga pendidik yang terjadwal Work from Office (WFO) untuk berkenalan dengan media kreatif penanaman nilai-nilai antikorupsi disambut antusias luar biasa oleh pihak sekolah?  “Saya tuh maunya sederhana ngajak teman-teman, ayo main bersama, nanti tak foto seperti itu,” ungkap guru SMPN 3 Gresik Tyas Hargyantiningsih yang kemudian diminta oleh kepala sekolah untuk menyelenggarakan pelatihan 9 nilai antikorupsi dan permainan SPAK kepada seluruh jajaran tenaga pendidik di sekolah pada Rabu, 25 Agustus 2021. Aktif sebagai agen SPAK Gresik, guru yang akrab disapa Tyas ini paham betul pentingnya pendidikan nilai-nilai antikorupsi khususnya dalam pembentukkan moral anak didiknya. Yang menarik, pemaparan nilai-nilai antikorupsi tidak hanya mengingatkan jajaran tenaga pendidik SMPN 3 Gresik bagaimana perilaku di kalangan siswa seperti mencontek atau menitip absen termasuk pada tindakan koruptif, namun juga pada keseharian dan interaksi antar tenaga pendidik.    Salah satu materi video menggelitik moral tenaga pendidik ketika memperlihatkan perilaku koruptif yakni menyembunyikan bingkisan yang dibagikan dalam suatu kegiatan agar tidak kehabisan. “Waduh, aku sekali itu,” ungkap beberapa rekan tenaga pendidikan kala mengingat kebiasaan yang mungkin terdengar sepele, yakni cepat-cepat membungkus lauk ketika ada tumpengan di sekolah untuk dibawa pulang sehingga ada beberapa guru yang tidak mendapat bagian. Melalui kacamata nilai-nilai antikorupsi, perilaku tersebut mengandung nilai ketidakadilan dan bertentangan dengan nilai kesederhanaan. Menanggapi kegiatan pelatihan nilai-nilai antikorupsi ini, Kepala SMPN 3 Gresik Sulistyorini berpesan agar jajaran tenaga pendidik mampu memaknai perilaku koruptif dan dapat mengintegrasikan nilai-nilai antikorupsi melalui mata pelajaran kepada peserta didik. Para tenaga pendidik pun menyambut antusias pendekatan pendidikan nilai-nilai antikorupsi melalui permainan SPAK yang dirasa mengasyikkan dan menarik untuk peserta didik. Ketika persepsi tindakan koruptif bergeser menjadi semakin dekat dalam konteks kehidupan profesional dan sehari-hari, kesadaran akan perlunya  komitmen dalam memaknai nilai-nilai antikorupsi pun mulai tumbuh. Hal inilah yang Tyas amati mulai muncul pada rekan-rekan tenaga pendidik yang enggan mengambil beberapa atribut SPAK yang tersedia di kegiatan pelatihan. Beberapa rekan merasa belum mampu untuk berkomitmen penuh dalam memikul tanggung jawab untuk sungguh-sungguh memaknai dan mencerminkan nilai-nilai antikorupsi. Namun, mereka mengungkapkan tekad untuk memulai perubahan dari hal-hal kecil.  “Mungkin perubahannya tidak langsung 180 derajat, tapi namanya juga berproses jadi pelan-pelan pun tidak apa-apa,” ujar Tyas.