Melawan Korupsi dari Ruang Sidang: Dr. Hj. Harijah D., MH

Dr. Hj. Harijah D., MH, seorang hakim tinggi di Pengadilan Tinggi Agama, memiliki pengalaman yang menginspirasi setelah mengikuti Training of Trainers (ToT) di SPAK pada Mei 2016. Dalam pelatihan itu, ia menyadari bahwa perilaku yang selama ini dianggap biasa dan benar ternyata termasuk bagian dari perilaku koruptif. Misalnya, budaya tidak antri dan memberi hadiah kepada atasan, guru atau dosen, yang sebelumnya dianggap lumrah, sebenarnya berdampak buruk karena bisa menyebabkan pilihan kasih dalam pemberian nilai atau perlakuan. Sebagai agen SPAK, Dr. Harijah D., MH, bertekad untuk menyebarkan nilai-nilai anti korupsi melalui permainan game SPAK di berbagai kalangan, termasuk keluarga, majelis taklim, sesama hakim, dan pegawai di pengadilan. Ia juga mengambil langkah konkret dengan memasang banner 9 nilai anti korupsi di Pengadilan Tinggi Agama tempatnya bertugas, serta di pengadilan tingkat pertama di lingkungan Pengadilan Tinggi Agama. Perubahan yang dilakukan Dr. Harijah D., MH, sebagai agen SPAK sangat signifikan. Dia menghentikan pungutan liar di area parkirPengadilan Agama Lamongan, menjadikannya gratis sebagai upaya memerangi korupsi di pengadilan. Tindakan ini dilakukan meskipun ditentang oleh pihak yang berkepentingan, sebagai bentuk komitmen untuk menjaga kebersihan pengadilan dari praktik koruptif. Selain itu, dia juga menertibkan antrian manual dengan beralih ke antrian digital untuk mengurangi praktek suap di pengadilan yang dipimpinnya. Cerita menarik Dr. Harijah D., MH, terkait dengan gratifikasi adalah ketika dia pertama kali bertugas sebagai ketua Pengadilan Tingkat Pertama. Dia menerima hadiah lebaran dari salah satu bank, namun dengan tulus melaporkannya kepada KPK sesuai prosedur, sebagai contoh bagi pimpinan lain untuk bertindak yang sama. Komitmennya terhadap penegakkan perilaku antikorupsi membuahkan penghargaan baginya sebagai pelopor perubahan untuk antikorupsi. Penghargaan ini diberikan oleh Kemenpan RB. Tidak hanya itu beliau juga berhasil membawa institusinya mendapatkan predikat lembaga wilayah bebas korupsi. Sebagai agen SPAK, harapan Dr. Harijah D., MH, adalah agar nilai-nilai anti korupsi yang dikembangkan di SPAK dapat diimplementasikan di seluruh pengadilan di Indonesia, termasuk Mahkamah Agung, untuk mencegah terjadinya kasus-kasus korupsi yang mencoreng nama baik lembaga peradilan. Pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat adalah mulailah melakukan perubahan dengan menjadi jujur, karena kejujuran adalah kunci untuk mencapai hasil yang lebih baik, baik dalam lingkup kecil seperti rumah tangga, maupun dalam membangun negara yang adil dan makmur.

“Transformasi Kepemimpinan: Perjalanan A. Wahyuli, Kepala Desa Mallari, bersama SPAK”

A. Wahyuli, S.Pd., kepala Desa Mallari di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menjadi sosok inspiratif dalam menghadapi tantangan pemerintahan dan membangun kesadaran anti-korupsi di desanya. Dengan populasi sekitar 2.950 jiwa dan sumber mata pencaharian utama dari pertanian, peternakan, perikanan, dan budidaya rumput laut, Desa Mallari memiliki kekayaan potensial yang harus dikelola dengan bijak.  Sejak awal memimpin Desa Mallari ia fokus pada pengembangan masyarakat dan pemberdayaan perempuan. Salah satu langkah nyata yang diambilnya adalah mendukung gerakan SPAK (Saya Perempuan Anti Korupsi) di desanya sejak akhir tahun 2017. Mengikuti Training Of Trainer (TOT) SPAK pada tahun ini, Wahyuli dan kader Desa Jujur serta Agen SPAK mengalami transformasi besar.  Melalui TOT, Wahyuli dan kader Desa Jujur mendapatkan pemahaman mendalam tentang perilaku koruptif yang sebelumnya dianggap biasa. Mereka dibekali  dengan alat edukasi seperti games SEMAI dan Majo, yang menjadi instrumen efektif dalam menanamkan nilai-nilai anti-korupsi.  Langkah-langkah strategis yang ia lakukan sebagai agen SPAK tampak nyata dalam perubahan Desa Mallari. Pertama, ia membentuk kader Desa Jujur dan Agen SPAK yang memiliki peran sentral dalam menggerakkan pencegahan korupsi. Kedua, setiap moment dijadikan kesempatan untuk menyampaikan semangat anti-korupsi, termasuk melalui permainan SPAK. Ketiga, ia fokus pada peningkatan kapasitas kader dan agen. Keempat, kader dan agen SPAK diintegrasikan dalam setiap kegiatan desa. Kelima, promosi nilai anti-korupsi di tempat umum dengan pemasangan poster, spanduk, atau baliho.  Perubahan signifikan juga dirasakan olehnya dalam kapasitas kepemimpinan dan sistem pelayanan publik Desa Mallari. Pengambilan keputusan menjadi lebih hati-hati, mempertimbangkan nilai-nilai anti-korupsi. Sistem pelayanan publik menjadi lebih efektif dan efisien, berbasis SOP, dan tanpa biaya sepersen pun serta tanpa praktik nepotisme. Namun, pengalaman yang paling menggugah hati adalah perubahan dalam pemikiran tentang gratifikasi. Sebelumnya, tindakan-tindakan yang dianggap sebagai bantuan ternyata merupakan bentuk korupsi yang merugikan.  Meski demikian, perjalanannya sebagai agen SPAK tidak terlepas dari tantangan. Namun, dengan ketangguhan dan semangatnya, ia berhasil memenangkan kepercayaan pamong desa yang awalnya skeptis terhadap gerakan SPAK. Wahyuli memiliki harapan besar terhadap gerakan SPAK di Desa Mallari. Ia berharap agar gerakan ini terus berjalan, menjadi penunjuk dan pengingat akan pentingnya nilai anti-korupsi. Harapannya adalah agar semangat anti-korupsi dapat tersebar dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari, mewujudkan cita-cita negara bebas korupsi untuk masa depan keluarga dan bangsa.  Dengan penuh harapan, Wahyuli mengajak semua untuk terus mendukung gerakan SPAK. Dia percaya bahwa dengan menanamkan nilai-nilai antikorupsi, kita dapat mewujudkan masa depan yang lebih baik untuk keluarga, bangsa, dan negara. Sebagai pesan terakhir, Wahyuli menyerukan kepada semua perempuan untuk tetap menjadi agen perubahan, menanamkan nilai-nilai kejujuran, dan menjadi teladan bagi generasi mendatang. 

“Perjalanan Integritas: Kisah Inspiratif Santi Widiastuti sebagai Agen SPAK”

Santi Widiastuti telah menjadi guru selama 28 tahun. Baru saja memulai perjalanannya sebagai agen SPAK setelah mengikuti Training of Trainer (TOT) di Jakarta. Sebagai ibu dari dua anak, Santi merasa tertantang untuk menyelami pemahaman baru tentang perilaku korupsi dan mengubah paradigma dalam kehidupannya. Santi menemukan bahwa banyak tindakan sehari-hari yang sebelumnya dianggap biasa ternyata merupakan bibit-bibit korupsi yang perlu dihindari. Melalui refleksi dan diskusi dengan keluarga ia memulai langkah perubahan dengan meningkatkan kedisiplinan diri dan memperkenalkan nilai-nilai integritas kepada anak-anaknya.  Mendapat pencerahan dari teman-teman sejawatnya, ia menyadari bahwa perilaku korupsi bisa mengintai di mana saja, bahkan dalam tindakan-tindakan kecil sehari-hari yang selama ini dianggapnya biasa. Kesadaran ini membawanya pada sebuah tekad baru untuk berubah, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarga dan lingkungannya.  Santi mulai  dari  hal-hal kecil, seperti tidak lagi memberikan tip kepada petugas kebersihan atau satpam. Salah satu yang dibawanya setelah mengikuti TOT ialah permainan SEMAI yang ia mainkan bersama muridnya di kelas. Permainan SEMAI menciptakan ruang bagi anak-anak untuk berdiskusi dan menyadari pentingnya sikap-sikap positif dalam kehidupan mereka.  Namun, ujian sejati datang ketika Santi dihadapkan pada gratifikasi menjelang Ramadan, yaitu orangtua. Ia bingung apakah harus menolak atau menerima karena pemberian dalam rangka hari raya tentunya diberikan dengan iklas. Dalam perjuangan untuk mempertahankan integritasnya, Santi menghadapi kebingungan dan dilema. Namun, dengan keteguhan hati, dia akhirnya menemukan jalan keluar  untuk menolak pemberian itu tanpa menimbulkan sakit hati pada pemberinya, Santi lega karena telah berhasil mengedepankan nilai-nilai yang diyakininya.  Di tengah perjalanan yang penuh liku, Santi juga harus menghadapi pertimbangan tentang mengirimkan hampers kepada pelanggan cateringnya. Meskipun tindakan ini bisa berdampak pada pandangan pelanggannya, Santi memilih untuk tetap mengikuti nilai-nilai yang diyakininya.  Di sekolah tempat Santi Widiastuti mengajar, diperkenalkan sebuah proyek bernama Penguatan Profil Pelajar Pancasila, dikenal sebagai P5. Proyek ini menekankan enam nilai penguatan pada profil Pelajar Pancasila:  1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.  2. Mandiri.  3. Bergotong royong.  4. Berkebhinekaan global.  5. Kreatif.  6. Bernalar kritis.  Dalam Training of Trainer (ToT) yang diikutinya, Santi diperkenalkan dengan sembilan nilai karakter yang seharusnya ditanamkan dalam diri anak-anak sejak dini. Melalui permainan SEMAI, Santi lebih mudah mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam P5. Misalnya, kejujuran ditarik hubungannya dengan nilai beriman dan bertakwa, sedangkan berkebhinekaan global dihubungkan dengan tanggung jawab sebagai warga negara yang baik.  Dengan demikian, profil Pelajar Pancasila dapat dijabarkan dengan baik melalui permainan SEMAI sesuai dengan sembilan nilai karakter. Sebagai agen SPAK, Santi berharap dapat memberikan kontribusi lebih besar dalam mendidik anak-anak dan menanamkan nilai serta karakter baik dari sekolah. Dia percaya bahwa setiap kontribusi, sekecil apapun, akan membawa kebaikan di masa depan.  Pesan dari Santi untuk masyarakat adalah pentingnya membiasakan yang benar dalam kehidupan sehari-hari. Dia mengajak semua orang untuk bersama-sama mengawali perubahan menuju kebaikan, dan meyakini bahwa dengan kesadaran dan tindakan nyata, Indonesia dapat menjadi negeri yang lebih baik dengan penduduk yang memiliki integritas tinggi.   Melalui kisah perjalanan Santi, kita belajar bahwa perubahan dimulai dari langkah-langkah kecil yang diambil dengan tekad yang kuat. Setiap tindakan kecil yang diambil dengan integritas adalah langkah menuju perubahan yang lebih besar, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan bangsa ini. Santi Widiastuti adalah bukti hidup bahwa kebaikan selalu dapat ditemukan dalam setiap sudut kehidupan, asalkan kita memiliki keberanian untuk berubah.