Membangun Budaya Antikorupsi sejak Dini melalui Program Organisasi Penggerak Kemendikbud Ristek

Program Organisasi Penggerak dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (POP Kemendikbud Ristek) merupakan kesempatan bagi SPAK Indonesia untuk menanamkan nilai-nilai antikorupsi di sekolah dengan menjadikan guru serta Kepala sekolah sebagai role model (contoh nyata) dalam kegiatan belajar-mengajar sehari-hari. SPAK merancang rangkaian aktivitas dalam bentuk penguatan kapasitas yang dilakukan secara daring. SPAK menyasar 15 guru dan kepala sekolah di Jakarta dan 15 guru serta kepala sekolah di Makassar dalam pelatihan POP. Adapun tujuan dari peningkatan kapasitas ini ialah membangun karakter guru dan kepala sekolah sebagai tenaga didik yang berperilaku antikorupsi, sehingga dapat mendorong terwujudnya ekosistem sekolah yang antikorupsi. Selain itu, dalam pelatihan POP Kemendikbud Ristek ini SPAK Indonesia juga mengajarkan, cara belajar-mengajar alternatif yang interaktif dan kreatif bagi tenaga didik dalam rangka menghidupkan pendidikan nilai-nilai antikorupsi.  Pelaksanaan POP Kemendikbud Ristek oleh SPAK Indonesia memiliki tiga aktivitas yang meliputi sosialisasi kegiatan, kegiatan Training of Trainer (TOT), dan pasca TOT. Aktivitas pertama telah diadakan pada 12 Oktober 2021 melalui daring yang diikuti oleh guru-guru dari sekolah di Jakarta dan Makassar. Adapun sekolah-sekolah yang terlibat meliputi SDN Mampang 05 Jakarta Selatan, SDN Pancoran 01 Pagi Jakarta Selatan, SDN Menteng 01 Pagi Jakarta Pusat, SDN Menteng 03 Jakarta Pusat, SDS Santa Ursula Jakarta Pusat, SD INPRES Unggulan Toddopuli Kota Makassar, SD Negeri Bawakaraeng I Kota Makassar, SD Negeri Bara-Baraya 1, SD Unggulan BTN Pemda, dan SD Negeri Maricaya 2.  Aktivitas kedua ialah TOT daring bersama 15 tenaga didik dari sekolah dasar negeri di Jakarta pada 20-22 Oktober 2021 dan 27-29 Oktober 2021 bersama tenaga didik dari daerah intervensi Makassar. Dalam tiga hari kegiatan, para tenaga didik diberikan pemahaman tentang Membanung Budaya Antikorupsi, kemudian sesi refleksi, dan berlatih menjadi fasilitator belajar dengan menggunakan Game SPAK. Sebagai praktik langsung, para tenaga didik diberikan kesempatan untuk membuat video yang menggambarkan diri mereka sedang mengajarkan materi antikorupsi melalui permainan dari SPAK. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan pengetahuan hingga pengalaman bersama tentang materi pembelajaran dari kegiatan POP Kemendikbud Ristek. Di akhir sesi pelatihan, para guru memberikan refleksi berupa kesan-kesan yang didapatkan. Seperti menurut Ibu Siti Millatina Shrothi, seorang guru dari SDN Pela Mampang 05 Jakarta Selatan mengatakan, “POP SPAK memberikan banyak informasi dan pengetahuan baru mengenai nilai-nilai antikorupsi yang ternyata dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kami (para guru peserta TOT) berencana akan memainkan permainan-permainan ini di lain hari dan akan memperkenalkan permainan ini kepada peserta didik.” Kesan menarik lainnya datang dari Kepala SDS Santa Ursula, Bpk. Yohanes Mulyasunarna yang menuliskan, “Adanya simulasi tentang materi yang didapat selama workshop, bagus untuk mempertajam pemahaman materi yang didapat, dan ini menyenangkan.” Refleksi lain datang dari peserta TOT di Makassar. Bpk. Muh. Fahrul mengakui, “Alhamdulillah, saya sangat senang bisa mengikuti kegiatan pelatihan POP SPAK Indonesia karena saya sebagai guru kelas bisa mendapatkan ilmu tentang korupsi, gratifikasi, ataupun suap yang sangat bermanfaat bagi saya yang masih kurang pemahamannya tentang korupsi dan lain-lain. Pemateri dan instruksi juga sangat baik dalam menjelaskan arahan kepada kami (guru-guru) tentang permainan yang disediakan oleh SPAK Indonesia. Tentunya, games ini akan diajarkan kepada siswa kami, agar mereka mempunyai pemahaman tentang korupsi dan lain-lain. Jujur saja, sebelum saya mengikuti pelatihan tentang korupsi, tanpa disadari pernah melakukan gratifikasi ataupun suap namun setelah mengikuti pelatihan ini, saya tidak akan pernah melakukan lagi dan lebih baik mengikuti prosedur yang ada dan lebih taat kepada aturan.”Tonton karya video-video memainkan Game SPAK sebagai bentuk peran serta membangun generasi berkarakter dan antikorupsi dari tenaga didik peserta POP Kemendikbud Ristek oleh SPAK Indonesia di sini. Referensi Gambar: Program Organisasi Penggerak, Kembdikbud Ristek

Dari GPP ke POP Membangun Karakter Guru, Menguatkan Peradaban Bangsa

GPP adalah Guru Pembangun Peradaban POP adalah Program Organisasi Penggerak Gerakan Saya Perempuan Antikorupsi (SPAK) telah membuktikan bahwa menanamkan keyakinan akan nilai-nilai antikorupsi merupakan salah satu faktor pendorong perubahan dalam rangka pencegahan korupsi.1 Fakta memprihatinkan tentang merosotnya Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia dari angka 35 menjadi 40 di tahun 2020 menunjukkan bahwa penegakan hukum perlu dibarengi upaya penanaman nilai-nilai antikorupsi agar terjadi perubahan berkelanjutan demi generasi penerus bangsa yang bebas dari korupsi.   Dalam hal ini sekolah menjadi lembaga yang memiliki peran besar, setelah keluarga. SPAK memulai gerakan Guru Pembangun Peradaban (GPP) yang diluncurkan pada 5 Desember 2019. Program tersebut dapat terwujud berkat hasil kerjasama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan sektor bisnis swasta. GPP juga bermula dari keputusan Wali Kota Surabaya saat itu ialah Ibu Tri Rismaharini, untuk memberlakukan kurikulum antikorupsi di Kota Surabaya. Hal itu mendorong SPAK memberikan usulan untuk mengawali pelaksanaan keputusan itu dengan membentuk guru-guru dan kepala sekolah antikorupsi agar menjadi role model antikorupsi bagi para siswa dan seluruh pemangku kepentingan sekolah. Para guru dan kepala sekolah ini diharapkan dapat mendorong terwujudnya ekosistem antikorupsi di sekolah masing-masing. GPP disambut baik oleh Ibu Risma dan Kepala Dinas Pendidikan Surabaya. SPAK menindalanjuti dengan menyusun program pelatihan yang direncanakan untuk 1.000 guru dan kepala sekolah. Akibat hadirnya pandemi Covid 19 pelatihan tersebut terhenti sampai 350 guru dan kepala sekolah. Tiga bulan setelah pelatihan, para guru dan kepala sekolah yang telah mengikuti pelatihan GPP, mencoba mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh. Para guru dan kepala sekolah juga mengajarkan pendidikan antikorupsi dengan menggunakan permainan yang dibuat oleh SPAK sebagai alat bantu belajar. SPAK mencatat evaluasi dari 350 guru dan kepala sekolah hingga mendapati terjadinya perubahan, baik di tataran individu maupun murid. Seperti halnya, para guru menolak untuk mendapatkan hadiah dari wali murid dengan penuh kesadaran dan hadir mengajar tepat waktu. Sedangkan pada tataran murid, para guru memberikan informasi bahwa murid di sekolah sudah sadar untuk mengantri ketika masuk kelas maupun jajan di kantin, tidak mencontek, maupun tidak melakukan perundungan terhadap sesama.2  Pengalaman SPAK dalam lingkup pencegahan, terlebih lagi kepada tenaga didik, menjadikan SPAK ingin terus melanjutkannya di daerah lain di Indonesia. Program Organisasi Penggerak dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (POP Kemendikbud Ristek) menjadi kesempatan untuk dapat melakukan hal tersebut. POP menjadi perpanjangan tangan SPAK untuk dapat berinteraksi secara langsung bersama guru-guru dan kepala sekolah dalam melakukan pencegahan korupsi di sekolah. Sehingga seluruh lapisan masyarakat yang ada di rumah maupun sekolah dapat mendidik anak-anak untuk memiliki nilai integritas di dalam kehidupan sehari-hari.  Pelatihan guru dan kepala sekolah bersama POP Kemendikbud Ristek saat ini diberikan pada 5 sekolah di Jakarta dan 5 sekolah di Kota Makassar. Program monitoring terhadap para peserta ini masih terus berlangsung juga dengan mengadakan pendampingan bersama para Agen SPAK di wilayah terkait. 1 Sarah Dyer, SPAK Evaluation 2016/2017, dapat di akses di 2 Laporan Kegiatan GPP Surabaya. SPAK Indonesia. 2020. Referensi Gambar: Program Organisasi Penggerak, Kembdikbud Ristek